Berkat Musik Angka Pengangguran di Ambon Turun

Berkat Musik Angka Pengangguran di Ambon Turun

Berkat Musik Angka Pengangguran di Ambon Turun

Berkat Musik Angka Pengangguran di Ambon Turun

Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon, Maluku, mengembangkan aktivitas bermusik bagi masyarakatnya dengan membuka ruang kreatif di berbagai kafe, hotel, restoran, dan panggung-panggung pertunjukan. Hasilnya, angka pengangguran di kota tersebut setiap tahunnya.

Wali Kota Ambon Richard Louhenapassy mengatakan, jumlah kafe di Ambon semakin bertambah sejalan dengan menghadirkan musisi untuk promosi, serta menjadi daya ungkit untuk kuliner.

“Produksi lagu daerah dan digitalisasi juga semakin tinggi. Selain itu, kunjungan artis nasional dan internasional memberikan ruang penonton yang tinggi,” ujar dia dalam sebuah keterangan tertulis

Berdasarkan Penilaian Mandiri Kabupaten/Kota Kreatif Indonesia (PMK3I) yang dilaksanakan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) pada 2017, Ambon memiliki sekitar 5.300 pelaku kreatif di sektor musik, 120 komunitas, lima pengusaha, dan 150 akademisi. Suara dari timur Indonesia itu menyumbangkan Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) sebesar Rp 8,73 miliar.

Sejak kreativitas musik dijadikan peluang usaha baru, Richard melanjutkan, maka angka pengangguran mencapai angka 4,94 persen pada 2018. “Dengan demikian, persentase pengangguran semakin menurun sebesar 0,67 persen per tahun,”

Kunjungan Wisatawan Meningkat

Terbukanya ruang bagi musisi disebutnya juga menciptakan kolaborasi antar-musisi dan kunjungan wisatawan yang makin signifikan dalam menciptakan geliat ekonomi di berbagai usaha bisnis. Sebut saja toko alat musik, toko cendera mata, bahkan semakin marak munculnya Event Organizer (EO) lokal.

Inovasi ini juga didukung dengan dasar regulasi berupa Peraturan Wali Kota Nomor 26/2017 tentang Ambon Menuju Kota Musik Dunia, dan Perda Nomor 2/2019 tentang Ambon Kota Kreatif Berbasis Musik. Richard menegaskan, tujuan utama Ambon City of Music adalah membangun Kota Ambon yang berkelanjutan dari aspek sosial ekonomi dan lingkungan, serta kreativitas.

Selain dari sisi regulasi, Pemkot Ambon dikatakannya juga mendukung keberlanjutan inovasi ini dengan alokasi dana rutin dari APBD Kota Ambon sejak 2014. “Unsur yang tak kalah penting dari keberlangsungan inovasi ini adalah sumber daya manusia yang memiliki kemampuan mewujudkan konsep, gagasan, pengetahuan, bakat, dan keterampilan sebagai kerja dan karya nyata,”

Kolaborasi Pemerintah dan Musisi

Secara internal, SDM yang berada di balik layar inovasi ini adalah Tim Ambon Music Office (AMO) serta pegawai Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Ambon. Sedangkan SDM eksternal terdiri dari para musisi, pelaku usaha, akademisi musik, dan media center Pemkot Ambon.

Menurut Richard, inovasi ini dapat diterapkan di seluruh daerah. Berbagai pemda telah mengunjungi Ambon dalam rangka mempelajari inovasi ini. Di lain pihak, berbagai institusi atau lembaga-lembaga baik pemerintah maupun swasta, serta perguruan tinggi giat membangun kerjasama dengan Pemkot Ambon untuk mempelajari konsep ini.

Dia menyatakan, inovasi ini memberi pelajaran untuk fokus pada satu visi atau branding yang mengutamakan kepentingan masyarakat sesuai kebutuhan masyarakat, serta nilai seni budaya yang sudah berakar dalam kehidupan masyarakat Kota Ambon.

“Karena musik sudah mendarah daging dalam kehidupan masyarakat Ambon, maka inovasi membawa perubahan yang besar dan sangat signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat dan tata kelola pemerintah yang lebih baik lagi